Pages

    Selasa, 30 Oktober 2012

    BWERSYUKUR KECALAKAAN ITU TIDAK TERJADI PADAKU

     Ass....
     saya yasmin ilham atau sering di panggil yasmin ini posting ke tiga aku tentang mensyukuri atas apa yang aku liat di kehidupan aku sehari-hari di dalam posting ke 3 ku ini aku ingin membagi cerita kahidupan yang nyata yang ada di sekitar kita dan juga saya ingin anda bisa memetik hikma di dalamnya agar anda sering-sering mengigat Allah SWT.


    Pada Hari Anak Nasional, 30 Agustus 2012, ramai orang membincangkan teguran Presiden SBY kepada panitia agar membangunkan anak yang tertidur saat beliau berpidato.  Buat saya teguran itu positif saja, setara teguran seorang guru kepada murid yang tidak memperhatikan guru kelasnya, mungkin bagi orang lain teguran tersebut tidak benar makanya ramai dibincangkan orang di TV, di Kompasiana dan barangkali juga di warung kopi.
    Siang hari ini saya ingin menuliskan kembali apa yang saya dengar dan saya ketahui tentang kisah kehidupan remaja yang tidak selalu mulus, kisah manusia yang biasanya  lebih ingat kepada Allah saat menghadapi kesusahan, kisah remaja yang pantang putus asa dan selalu bersyukur.
    Sebuah pepatah mengatakan bahwa kecelakaan justru banyak terjadi di jalan yang mulus, kecelakaan di jalan tol Jagorawi jika diteliti mungkin lebih sering terjadi dibanding kecelakaan di jalan raya (lama) Jakarta - Bogor. Penyebabnya biasanya karena pengendara terlena memacu kecepatan mobil terlalu tinggi, padahal pengguna jalan bukan sendirian, belum ketidaksiapan kendaraan yang digunakan untuk dipacu dalam kecepatan tinggi.  Ibarat orang hidup senang tanpa hambatan ekonomi yang berarti, sangat mungkin ia terlena, lupa bersyukur kepada Tuhannya.
    Kisah Dua Mahasiswa Baru
    Saya dengar dari khotib, yang juga staf pengajar UI, di Masjid UI pada Jumat 31 Agustus 2012.   Ada seorang mahasiswi baru angkatan 2012 Fakultas Hukum, masuk UI melalui jalur undangan, asal SMA Negeri 2 Bandung.  Anita, kita sebut nama mahasiswi tersebut, sejak kecil, sejak usia SD, SMP dan SMA hidup dalam kekurangan, orangtua termasuk berpenghasilan minim, belum memiliki rumah tinggal sendiri, untuk datang ke Depok pun ia menjual sepeda miliknya.
    Dalam keprihatinan hidup ternyata Anita tidak berputus asa, walau rapor semesteran sering tidak dapat diambil tepat waktu karena masih menunggak bayaran, tapi nilai pelajaran yang dicapai mayoritas 9 (sembilan).  Akhirnya anak pandai ini masuk SMA berkualitas dan mendapat undangan masuk FHUI tanpa melalui SNMPTN.
    Dalam karya tulis yang ia buat sebagai tugas masa perkenalan mahasiswa baru, ia berpesan kepada teman-temannya yang lebih beruntung, hidup berkecukupan untuk memanfaatkan kecukupan dan rezeki keluarganya dengan sebaik-baiknya, karena banyak anak-anak yang tidak beruntung menikmati kelimpahan rezeki seperti itu.
    Kisah kedua tentang mahasiswa baru IPB tahun 1970an akhir.  Seorang mahasiswa asal sebuah kota kecil di Jawa Timur diterima di IPB melalui jalur undangan, artinya mahasiswa baru ini juga termasuk anak pandai di sekolahnya.  Menurut pengakuan mahasiswa tersebut, ia datang dari keluarga biasa, hidup relatif pas-pasan, tapi semangat untuk memperbaiki kualitas hidup sangat menggebu-gebu.
    Ia bercerita pada suatu hari ia menghadap seorang Guru Besar IPB, yang namanya cukup dikenal di Indonesia, meminta bantuan untuk mendapatkan bea siswa untuk kelangsungan pendidikannya di IPB.   Profesor yang baik hati namun galak di kelas itu, setelah mengetahui keadaan sosial ekonomi si mahasiswa baru, lalu mengabulkan akan membantu mahasiswa tersebut mendapatkan bea siswa, dengan satu syarat nilai pelajaran-pelajaran terkait  matematika minimal harus B.  Bila tidak, maka bea siswa akan dicabut tahun berikutnya.  Persyaratan pak Profesor sangat wajar sebagai ikatan agar si mahasiswa tidak lalai belajar.  Alhamdulillah si mahasiswa baru berhasil memenuhi janjinya pada pak Profesor sampai ia menyelesaikan studinya dan kemudian bekerja di sebuah perusahaan besar.
    Dua kisah mahasiswa baru di atas, merupakan sebuah contoh betapa anak-anak remaja yang masih muda usiapun bila tak berputus asa, berdoa dan berusaha akhirnya mendapat jalan menuju kehidupan yang lebih baik.  Mudah-mudahan setelah mendapat rezeki dan sukses yang belum tentu diperoleh setiap anak Indonesia, kedua mahasiswa berbeda generasi ini tak lupa bersyukur dan mengingat Allah Yang Mengatur Alam Semesta.

    sekian posting ketigaku ini semoga kalian mendapatkan hikma di balik semua ini
    Wasalam..........

    0 komentar:

    Posting Komentar

     

    Blogroll

    About